AYAM GORENG LOMBOK IJO SEMARANG
PANGANAN SEMARANG, mBlakrak 1 Comment »
Mengetahui aku sering jalan nganter istri bertugas ke Semarang, salah seorang bolo-ku menyarankan aku untuk mencoba makan di Rumah Makan Ayam Goreng Lombok Idjo. ” Maknyus” begitu promosinya. Makanya saat ke Semarang kusempatkan diri mampir ke Rumah Makan Ayam Goreng Lombok Idjo ini. Karena sebelumnya aku sudah pernah lewat jadi aku sudah tahu lokasinya yang berada di jalan Gajah Mada Semarang atau berdekatan dengan kawasan Simpang Lima Semarang.


Begitu aku masuk ke rumah makan ini ternyata banyak pengunjung yang juga sedang makan di sana. Salah satu pelayannya langsung mencarikan aku tempat duduk dan memberiku daftar menu. Cukup banyak menu yang ditawarkan seperti paha/dada ayam goreng/bakar, ati ampela goreng, kepala goreng, empal penyet sambal terasi,tahu/tempe sambal terasi/bawang/ijo, sop, sayur asem, sayur bening, balado terong, dan pete goreng. Sedangkan beragam minuman yang dijual di tempat ini yaitu soda soemringah, es kelapa muda, es kejer, es sedjoek, es tipis, wedang tomat, djoes djeruk, djoes semangka dan sebagainya. Aku bertanya pada pelayan rumah makan ini apa menu yang biasa banyak dipesan. “Ayam goreng lombok idjo” jawabnya. Makanya aku pesan paha ayam dengan sambal lombok idjo, nasi setengah dan es tipis. Aku hanya perlu menunggu sebentar karena mereka langsung menyajikan makanan pesananku. Kuperhatikan mereka menyajikan ayamnya dalam wadah anyaman sehingga kelihatan unik. Ayam gorengnya lumayan besar dengan bumbu kremes yang lumayan banyak. Saat aku mulai memakannya ternyata rasa ayam gorengnya uenak, empuk banget. Apalagi dimakan dengan menggunakan nasi dan kremes yang gurih tambah lezat lagi. Kremesnya memang tak sekering kremes ayam goreng di tempat lain tapi uenak juga. Lalapannya beda bukan kubis tetapi daun ketela pohon. Anehnya tak sepahit seperti daun ketela pohon di rumah makan padang. Yang lebih istimewa lagi sambal idjonya. Top markotop. Mirip sambal idjo khas padang tapi lebih pas di lidahku. Asin dan pedasnya menggoyang lidah deh. Selanjutnya kuminum es tipis. Es tipis itu adalah perpaduan es, parutan ketimun dan air jeruk nipis. Rasanya manis, asam dan menyegarkan. Saat pelayan rumah makan mendekatiku dan bertanya apakah cocok dengan menu yang mereka hidangkan, aku langsung jawab “Uenak semua mbak.” Sepertinya ayam goreng lombok idjo ini sayang jika dilewatkan bila ke Semarang lagi deh. Apalagi hargaya murah banget. Sepotong ayam hanya seharga 7 ribu perak. Jadi makan nasi, paha ayam goreng lombok idjo plus segelas es jeruk nipis hanya 16 ribu perak. Murah kan untuk ukuran rumah makan sebesar itu. Silakan mampir kesana jika Anda ke Semarang deh. (rachmira)

Biasanya aku menyempatkan mampir di warung ini bila kebetulan baru turun atau hendak naik kereta api di Stasiun Balapan. Warungnya tak terlalu besar, dan terbuka. Hanya ditutupi keber/spanduk bertuliskan Soto Kwali Pak Hardjo. Ada dua meja panjang dan beberapa kursi yang disediakan untuk pembeli. Sedangkan mereka menyiapkan sotonya dalam gerobak dorong. Saat aku kembali mampir di warung Soto pak Hardjo (2/2) lalu, aku langsung memilih duduk di dekat penjualnya. Aku memesan soto tanpa nasi. Tak berselang lama, mereka menyajikan soto panas kepadaku. Soto ini berbeda dari tempat lain karena isinya benar-benar hanya daging sapi yang diiris tipis. Dalam kuahnya diisi kecambah, rajangan seledri dan bawang goreng. Warna kuahnya bening agak kekuningan. Menurutku rasanya kurang asin. Tapi tak perlu kuatir karena sudah tersedia garam di meja yang bisa kita tambahkan bila kita membutuhkannya. Aku mulai memakan soto ini dengan pelan-pelan karena kuahnya panas dan agak pedas karena aku menambah sambal yang agak banyak. Sambalnya terbuat dari cabe rawit yang dihaluskan dan diencerkan dengan air. Sengaja kuambil lauk tempe goreng kering sebagai teman makan soto. Hm nikmat deh rasanya. Sebenarnya selain tempe goreng kita bisa menambah berbagai lauk lain seperti sate ayam/rempelo ati, sosis, gelantin dan tahu goreng. Biar lebih nikmat kita bisa ambil kerupuk juga. Semangkuk soto ini hanya dihargai sebesar 5000 perak. Tak mahal kan. Sebagai penutup minum teh panas yang manis. Hm tambah lezat. (rachmira)






Sego liwet Yu Sani sudah menjadi ikon baru nasi liwet di kota Solo, terletak di kawasan Solo baru, nasi liwet yang satu ini rasanya lebih ‘nendang’ dari nasi liwet yang legendaris Yu Wongso Lemu.
Bicara mengenai soto, sudah tentu soto termasuk salah satu menu favoritku. Bisa dimaklumi sedari kukecil soto menjadi menuku sehari-hari. Kebetulan nenekku punya depot soto yang lumayan laris di jalan doho kediri dan sudah berdiri sejak jaman perang, di kenal dengan nama Soto PODJOK atau orang-orang jaman dulu lebih mengenalnya dengan nama SOTO MOEL.
Saat aku masih anak-anak setiap hari aku mesti makan soto ceker. Soto ceker buatan nenekku uenak tenan, cekernya benar-benar empuk dan bumbunya meresap banget. Soto ceker seperti ini sulit bisa didapat lagi. Sejak nenekku tiada, om dan tanteku (salah satu adik ibu) yang meneruskan usahanya, tapi jangan tanya soto ceker lagi sebab mereka sudah tidak menjual yang seperti itu, kalau soto ayamnya masih tetap ada dan jadi salah satu tempat wisata kuliner di kediri. Di kediri yang namanya penjual soto memang banyak, mereka punya ciri khas sendiri sendiri.
Jika di depot soto ayam PODJOK menyajikan yang khas dan beda, dimana kuahnya agak kental, dengan potongan ayam suwir. Jika mau bisa ditambah bagian ayam yang dinginkan semacam rempelo ati atau uritan. Selain itu yang lain daripada yang lain adalah bisa dimakan bareng tahu goreng. Tahu goreng di tempat ini beda sebab guede banget dan enak, jadi orang sering ketagihan makan tahu panas di tempat ini, pokoknya tidak boleh dilewatkan mampir ke Soto PODJOK dech, dijamin ciamik soro…(rachmira)







Lama tidak berkunjung ke Semarang, maka begitu sampai di Semarang kusempatkan dulu sarapan. Kebetulan aku sedang kangen makan soto Semarang makanya aku langsung saja menuju ke warung Soto Ayam Pak Din di jalan Tanjung. Kebetulan beberapa bulan lalu aku sudah pernah makan soto ayam di warung ini dan cocok makanya aku ingin mengulanginya lagi. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi waktu aku masuk ke warung yang berada tepat di belakang kantor PLN jalan Pemuda itu. Tampaknya pak Din baru saja sampai tetapi beberapa orang pembeli sudah tampak duduk dan menunggu makanan di sajikan. Lalu pak Din pun mulai bertanya berapa mangkuk pada pembeli. Aku langsung pesan “Satu pak tanpa nasi,” Tak berselanglama semangkuk kecil soto ayam panas diberikan padaku. Mangkuknya kecil banget. Tapi isinya buanyak. Kelihatan dari luar sudah menggoda selera. Kuahnya tampak mengepul menandakan masih puanas banget. Isinya suun, suwiran ayam ditaburi seledri, rajangan pre, bawang merah goreng dan bawang putih goreng. 